Rabu, 20 April 2011

JET-JET TEMPUR GENERASI KE 5 STEALTH (SILUMAN)


 KFX 201 (INDONESIA-KORSEL) 5TH GERERATION

16 Juli 2010, Seoul -- Indonesia sepakat bergabung dalam proyek pengembangan jet tempur KF-X,Korea Selatan (Korsel), yang tertunda selama beberapa tahun akibat masalah teknis dan pendanaan.

Kedua negara juga sepakat untuk bekerja sama dalam produksi dan pemasaran jet tempur tersebut. “Indonesia akan memperoleh sekitar 50 jet tempur KF-X dengan menanggung 20% biaya pengembangan proyek bernilai miliaran dolar AS itu,” ungkap Kementerian Pertahanan Korsel dalam rilisnya. Kesepakatan itu ditandatangani di Seoul oleh Komisioner Kementerian Pertahanan Korsel dan Sekretaris Jenderal (Sekjen) Kementerian Pertahanan (Kemhan) Indonesia Marsekal Madya TNI Erris Herryanto kemarin.Menurut Juru Bicara Kementerian Pertahanan Korsel,proyek ini akan kembali dimulai awal tahun depan. Adapun produksi jet-jet tempur baru dilakukan setelah studi kelayakan rampung pada akhir 2012.

Model jet tempur siluman KF-X. (Foto: emile)

“Kami juga memerlukan mitra asing yang akan mentransfer teknologi dan suku cadang utama jet tempur tersebut,” ujarnya tanpa menyebutkan total dana yang diperlukan. Proyek jet tempur KF-X sebenarnya sudah diluncurkan tahun 2000,tapi ditangguhkan karena masalah teknis dan ekonomi.Presiden Lee Myung-bak pada Januari lalu setuju untuk mendorong proyek tersebut di tengah meningkatnya ketegangan antara Korsel dan Korut. Kementerian Pertahanan RI membenarkan kerja sama dengan Korsel dalam memproduksi pesawat tempur KF-X.Pemerintah Indonesia bisa menggunakan fasilitas milik PT Dirgantara Indonesia.

“Kami tidak hanya membeli pesawat tempur, tetapi juga ingin bekerja sama dalam produksinya.Kami berharap fasilitas milik PT Dirgantara Indonesia bisa digunakan untuk hal itu,”kata Juru Bicara Kemhan BrigjenTNI I Wayan Midhio. I Wayan mengatakan KF-X adalah pesawat tempur jenis baru yang memiliki kemampuan tempur andal. Bahkan.Wayan berani mengklaim kemampuan KF-X ini di atas F-16, tapi masih di bawah F-35.Wayan mengakui pemerintah berencana membeli 50 buah KF-X begitu pesawat selesai diproduksi.Tidak hanya membeli, pemerintah juga membantu memasarkan pesawat itu ke negara-negara lain.

“Saya kira, prinsip yang paling utama adalah sekarang negara kita bisa ikut terlibat dalam proses produksinya,jadi ada transfer teknologi,”tuturnya. Juru Bicara TNI Angkatan Udara Laksamana Pertama Bambang Samudro menyatakan kerja sama produksi pesawat tempur dengan Korsel ini adalah bagian dari rencana kedua pihak untuk meningkatkan kemampuan dalam memproduksi pesawat tempur.“Ini adalah kerja sama jangka panjang kedua negara.Kesepakatan ini dicapai setelah melalui pembicaraan panjang,”tuturnya.

Kerja sama produksi pesawat tempur ini, lanjut Bambang,dimulai tahun ini sementara segala persiapan seperti survei dan membuat prototipe akan dilakukan hingga 10 tahun ke depan.Bambang menambahkan, TNI AU akan memakai semua pesawat itu jika pemerintah membelinya.“Yang paling utama, kita tidak hanya membeli, tetapi kita bisa membuat sendiri peralatan tempur kita sebagaimana yang pemerintah inginkan,”katanya. Sekjen Kemhan Marsekal Madya Erris Herryanto sebelumnya mengatakan Indonesia layak untuk berpartner membuat pesawat tempur.Menurut dia,langkah kerja sama dengan Korsel merupakan suatu kemajuan karena tidak banyak negara yang bisa membuat pesawat tempur.


Apabila memiliki pabrik pesawat tempur, Indonesia tidak akan bergantung lagi kepada negara lain. Namun Erris saat itu belum bisa merinci beberapa hal yang tertuang dalam perjanjian itu,termasuk apa saja yang akan diperoleh Indonesia dan apa saja yang harus disediakan. ”Yang jelas, kita punya PT Dirgantara Indonesia dan tenaga ahli,”kata Erris. Dia juga mengungkapkan, spesifikasi pesawat tempur KF-X ini kira-kira berada di atas F-16,tetapi di bawah spesifikasi F-35.Adapun kebutuhan biaya yang diajukan sekitar USD8 miliar dengan jangka waktu kerja hingga tahun 2020.Pada 2020 diharapkan sudah bisa disiapkan lima prototipe.Dari keseluruhan anggaran itu,Indonesia diharapkan menanggung sebesar 20%.

Berdasar informasi yang berkembang, pesawat tempur ini rencananya akan rilis pada 2020 .Rencananya KF-X akan disokong mesin kembar setara dengan kelas General Electric F414 atau SNECMA M88 yang digunakan pada F/A- 18E/F Boeing dan Dassault Rafale. SNECMA menggambarkan M88 sebagai landasan dari keluarga mesin generasi baru. Mitra yang akan dirangkul untuk pengembangan mesin adalah Lockheed Martin yang sebelumnya terlibat dalam desain dan pengembangan pelatih Korea Aerospace T-50 jet supersonik. Proyek KF-X juga akan merangkul sejumlah perusahaan asing. Perusahaan-perusahaan asing akan membayar hingga 30% dari program.

Kepala Tim Pengembangan Sistem Udara Korsel Kolonel AU Dae Yeol-lee sebelumnya mengungkapkan, BAE Systems telah menyatakan minatnya dalam mengembangkan radar, sedangkan Alenia Aeronautica dipercaya untuk memasok senjata utama dari KF-X dan bertanggung jawab pada program neuron kolaboratif untuk mengembangkan teknologi European combat-drone.

SINDO


Jet Siluman Cina J-14




J-XX, J-14 (China, 2018)
This is the Chinese 5th generation fighter (4th generation by Chinese nomenclature) under development in Shenyang Aircraft Industry. Its introduction is planed for 2018.

No details of the aircraft were given yet to the public, but it is almost certainly designed for supersonic cruise without afterburning. China is probably working on two 5th generation concepts – one would be a heavy twin-engine fighter probably of about the same size as the F-22, and the other is a single-engine aircraft probably closer to the F-35.
http://militarystrat.wordpress.com/2010/01/07/chinas-5th-generation-j-14-stealth-fighter/ 

hightechnologyzone

Sukhoi PAK FA T-50 (Russia, 2015)
The twin-engined Sukhoi PAK FA (Russian: Перспективный авиационный комплекс фронтовой авиации, literally "Future Frontline Aircraft System") is the first non-American 5th generation fighter. It is developed by Sukhoi OKB for the Russian Air Force. Its first flight was in January 29th 2010, and introduction is planed for 2015. Estimated cost of 1 fighter is US$100 million.
As mentioned, the Russian Defense Ministry will purchase the first 10 of the T-50 after 2012 and then 60 after 2016. Also, Sukhoi director Mikhail Pogosyan has projected a market for 1,000 aircraft over the next four decades, which will be produced in a joint venture with India, 200 each for Russia and India and 600 for other countries.




General performances

Data available to public is unreliable, but according to www.globalsecurity.org, the T-50’s top speed is Mach 2.45 (2,600 km/h, 1,615 mph).
Ferry range is 5,500km, service ceiling 20,000m and g limit is +11g.

It seems that the PAK FA is going to surpass the US’s F-22 Raptor, and it going to be cheaper at the same time due to its more simple structure.
The PAK FA also has a bigger weapons bay and greater fuel capacity. Innovative wing leading edge radar of lower frequency (perhaps L band) would be able to locate stealth aircraft like the F-22, a capability that the F-22 does not have.
http://fightercountry.org/news/air-force-news/sukhoi-t-50-5th-generation-fighter/71265

However, premier of Russia Vladimir Putin and Russian media has spotted that the stealth technology along with electronic equipment are not fully developed yet for this aircraft, so it need to be reequipped to regain its title as 5th generation fighter.
http://english.pravda.ru/russia/economics/18-06-2010/113908-fifth_generation-0 
hightechnologyzone

F-22 Raptor (USA, 2005)
This is the world’s first and so far only produced fighter classified as 5th generation aircraft – it is introduced in December 15th 2005, but it’s first prototype, YF-22, had his first flight in September 29th 1990. 9 years earlier (1981), USAF identifies need to replace F-15. Manufacturers are Lockheed Martin Aeronautics and it’s partner Boeing Integrated Defense Systems. They produced 168 units so far (1 unit costs ~ US$150 million).


This fighter is a single-seat, twin-engine aircraft designed to be dominant in the air-to-air combat, but its complex structure and size makes it too expensive right now. On the other side, the smaller F-35 is less dominant and cheaper fighter, so it will be produced for selling.  




General performances


According to Lockheed Martin, the F-22 is the 2.0 Mach machine (Mach 1 = speed of sound) – they said that with afterburners, speed is "greater than Mach 2.0" (2,120 km/h, 1,317 mph).
According to AirForces Monthly magazine, the highest achieved speed by this aircraft is Mach 2.25 (2,410 km/h, 1,500 mph).
Range of F-22 Raptor is 2,960km, service ceiling (max altitude) is 19,802m, combat radius (max distance from the airbase) is 759km and g limit is -3.0/+9.0g.


This fighter is capable of maintaining a constant angle of attack of over 60°, yet still having some control of roll. During June 2006 exercises in Alaska, F-22 pilots demonstrated that cruise altitude has a significant effect on combat performance, and routinely attributed their altitude advantage as a major factor in achieving an unblemished kill ratio against other US fighters and 4th/4.5th generation fighters.



F-35 Lightning II (USA, 2014)

This is the single-seat, single-engine fighter descended from the X-35, the product of the Joint Strike Fighter (JSF) program. First flight of prototype was in December 15th 2006, and its introduction is planed for 2014.

As mentioned, The United States intends to buy a total of 2,443 aircraft for an estimated US$323 billion, making it the most expensive defense program ever. Its development is being principally funded by the United States, with the United Kingdom, Italy, Netherlands, Canada, Australia, Denmark, Norway and Turkey providing additional funding. It is being designed and built by an aerospace industry team led by Lockheed Martin with Northrop Grumman and BAE Systems as major partners.  The F-35 is likely to cost between US$65–120 million – it will be less dominant then F-22 in air-to-air combat, but much more economical (commercial).

To keep operating costs down, designers are developing 3 types of this aircraft: F-35A - conventional take off and landing (CTOL) variant, F-35B - short-take off and vertical-landing (STOVL) variant and F-35C - carrier-based CATOBAR (CV) variant. The F-35 is intended to be the world's premier strike with close and long range air-to-air capability second only to that of the F-22 Raptor.





General performances

According to Aviation Week site, max speed of F-35 Lightning II is Mach 1.67 (2,065 km/h, 1,283 mph).
Range is 2,220km, service ceiling is 18,288m and combat radius is 1,090km and g limit is 9g.


hightechnologyzone


Sukhoi/HAL (India – Russia, 2018)


In 2018, the Sukhoi/HAL will be introduced. It is developing for Indian Air Force in cooperation of Sukhoi Design Bureau and Hindustan Aeronautics Limited.







AMCA (India, 2025)


The Advanced Medium Combat Aircraft (AMCA) will be the Indian twin-engine fighter. It is developing by Aeronautical Development Agency and its introduction is planed by 2025.








TFX 2012 TURKEY







TURKY MULTY ROLE STEALTH FIGHTER BOMBER TXF-2012 CONCEPT.

Mitsubishi ATD-X Shinshin (Japan)



The “Advanced Technology Demonstrator – X” (ATD-X) is a prototype being developed by Mitsubishi Heavy Industries for Japanese Ministry of Defence. It is not officially planed for production, but its first flight is expected in 2014.
The ATD-X will be used as a technology demonstrator and research prototype to determine whether domestic advanced technologies for a 5th generation fighter aircraft are viable, and is a 1/3 size model of a possible full-production aircraft. It is mostly inspired by F-22 Raptor.

Kilas Balik Perang Mata Uang Cina dan AS

Kilas Balik Perang Mata Uang Cina dan AS

Kilas Balik Perang Mata Uang Cina dan AS
Istilah perang devisa tahun lalu menjadi buah bibir di media pemberitaan. Perang ini berlangsung antara dua kubu kekuatan ekonomi dunia yang kebetulan juga punya pengaruh kuat di tengah masyarakat internasional. Entah siapa yang pertama kali menggelindingkan istilah perang ini. Yang jelas perang ini menunjukkan iklim sebenarnya di tengah negara-negara yang disebut maju dan dipandang mapan. Negara-negara ini khawatir jika mata uang mereka kian menguat dan nilai tukarnya melambung. Sebab, hal itu akan berdampak buruk pada pendapatan mereka bahkan bisa melumpuhkan ekspor. Sebagian malah menyebut adanya kecurangan dan persaingan yang tidak adil di pasar perdagangan. Pasalnya, negara yang menekan nilai tukar mata uangnya berarti punya ongkos produksi yang lebih kecil dibanding nilai jual komoditas yang diekspornya ke luar. Persaingan dengan cara ini dipandang sebagai tindakan curang dan persaingan yang tak sehat. Perang mata uang tahun 2010 melibatkan AS dan Cina. Sejak masuk ke Organisasi Perdagangan Dunia (WTO) pada Desember 2001. Awalnya AS berharap, masuknya Cina ke WTO bisa menguntungkan Washington. Karena dengan itu AS bisa mengendalikan Cina yang menjadi kekuatan besar dan baru di pentas pedagangan dunia dalam kemasan kerjasama. Namun nampaknya dewi fortuna berpihak kepada Cina. Sebab, tak lama setelah Cina jadi anggota WTO pembatasan eskpor di lembaga perdagangan ini dicabut. Ini berarti Cina bisa menjual produknya ke AS dalam jumlah berapapun. Tentunya barang komoditas buatan Cina diproduksi dengan harga kecil yang salah satu penyebabnya adalah rendahnya nilai mata uang Yuan.
Sebenarnya perselisihan antara Cina dan AS sudah ada sejak lama dan mengakar cukup dalam. Kedua negara punya sengketa terkait masalah militer dan hak asasi manusia (HAM). Ada pula sengketa yang bersumber pada persaingan keduanya dalam memperebutkan pengaruh di berbagai kawasan dunia. Saat ini Cina sudah melangkah jauh dengan menebar pengaruh di Afrika, Amerika Latin, juga ASEAN lewat kerjasama erat dengan asosiasi negara-negara Asia Tenggara ini. Cina sudah menormalisasi hubungan bilateralnya dengan India, dan menjalin kerjasama strategis dengan Rusia khususnya lewat Organisasi Kerjasama Shanghai. Semua itu jelas menumbuhkan kekhawatiran bagi AS. Dalam setahun terakhir, friksi antara AS dan Cina di bidang ekonomi, perdagangan dan tarif cukai cukup menarik dan memanaskan media pemberitaan dunia. Aksi saling balas diantara kedua negara juga mengundang perhatian.
Para ekonom AS menuduh Cina sengaja menekan nilai tukar mata uang Yuan supaya komoditas ekspornya bisa merajalela menguasai persaingan di pasar global. Jeffry Frieden, professor dari Universitas Harvard menjelaskan, tindakan Cina yang berusaha mempertahankan nilai Yuan tetap rendah, bukan hanya merusak ekonomi AS tetapi juga berimbas buruk pada perekonomian sebagian besar negara. Pakar masalah moneter dan finansial di banyak negara itu menambahkan, rekayasa devaluasi Yuan yang dilakukan Cina, sejatinya akan menyeret negara-negara dunia untuk berlomba-lomba menurunkan nilai mata uangnya. Di sisi lain, ia juga menilai bahwa pelemahan nilai Yuan juga menjadi biang utama yang membuat perbaikan ekonomi di Negeri Paman Sam tak juga membaik. Meski Jeffry tak mengingkari kelemahan internal ekonomi AS, namun kebijakan Cina itu dinilainya telah menyebabkan kebijakan ekonomi AS di kancah global terseok-seok.
Tahun 2009, Cina menduduki peringkat pertama di dunia dengan ekspor tertinggi yang mencapai nilai 1200 miliar USD. Selisih neraca perdagangan negara dengan jumlah populasi 1,3 miliar jiwa itu setiap tahunnya mencapai 250 miliar USD. Cadangan devisa Cina juga mengagumkan dengan mengukir angka spektakuler 2,422 triliun USD yang sekaligus mendudukkannya sebagai negara dengan cadangan devisa terbesar. Padahal, AS hanya menempati urutan ketujuh belas dunia dengan cadangan devisa sebesar 130 miliar USD dan bahkan berada di bawah Brazil, Aljazair dan Thailand.
Dalam perang ekonomi antara dua kutub kekuatan dunia, AS memang tertinggal jauh di belakang Cina. Tak heran jika AS menyalahkan Cina lantaran keengganan Beijing menaikkan nilai tukar mata uangnya. Cara itu, menurut AS, adalah trik Cina untuk meraih keuntungan dalam perdagangan kedua negara. Saat ini, setengah dari neraca defisit perdagangan AS terkait dengan hubungan dagangnya dengan Cina. Masih menurut AS, Beijing sengaja menahan kenaikan nilai tukar Yuan sehingga membuat barang-barang Cina yang murah membanjiri pasaran Amerika. Tahun 2009, nilai ekspor AS ke Cina hanya sebesar 70 miliar USD sementara nilai ekspor Cina ke negara itu mencapai 366 miliar USD.
Tentunya Cina tak tinggal diam menjadi sasaran tuduhan itu. Beijing menyatakan bahwa ketimpangan neraca perdagangan AS disebabkan oleh tradisi orang Amerika yang hobi belanja sementara harga barang-barang produk lokal cukup mahal. Kalah dalam perang dagang ini, AS mengancam hendak memberlakukan sanksi perdagangan atas negara itu. Cina pun balas menggertak dan menyatakan siap melakukan tindakan balas jika sanksi benar-benar dijatuhkan oleh AS. Yang jelas, dalam banyak hal AS sangat bergantung kepada Cina. Apalagi lebih dari 800 miliar USD obligasi AS ada di tangan Cina.
Rupanya, dalam perang mata uang ini, bukan hanya AS yang geram dengan ulah Cina. Negara-negara Eropa juga melayangkan kritik serupa. Mereka mengatakan, jika Cina melepaskan kendalinya atas Yuan dan membiarkan mata uang itu bergerak bebas di bursa devisa, maka nilai tukar Yuan akan meningkat minimal 40 persen dari nilai sekarang. Sampai saat ini, belum ada tanda-tanda Cina akan mengubah kebijakan keuangannya. Sebab, jika nilai tukar Yuan dibiarkan menanjak bebas, maka nasib para buruh yang terlibat dalam aktivitas produksi komoditas ekspor Cina ke luar negeri akan terancam, padahal jumlah mereka sangat besar. Alasan itulah yang diungkap oleh Zhao Xiaochuan, Gubernur Bank Central Cina saat mengumumkan sikap Beijing yang menolak membiarkan nilai tukar Yuan meningkat. Namun demikian, dia menjanjikan perimbangan nilai tukar Yuan secara bertahap.
Dalam kebijakan keuangannya, Cina memainkan peran seperti bank. Ketika rakyat di negara itu memerlukan jasa simpanan bagi uang mereka, pemerintah Cina mengeluarkan obligasi. Dari hasil penjualannya dana itu digunakan untuk membeli obligasi yang dikeluarkan negara lain, khususnya AS. Dengan cara ini cadangan kas negara Cina menjadi sangat besar. Ini berarti, pemilik sebenarnya dari dana itu adalah para pemain swasta. Poin terpenting adalah bahwa selisih keuntungan dari neraca perdagangan Cina dengan AS berikut cadangan devisa dijadikan dana simpanan oleh pemerintah Cina. 

IRIB

J-20,Perpaduan Teknologi AS dan Rusia

China tak bisa dipandang sebelah mata dalam teknologi pesawat siluman.Ini setelah dua hari yang lalu China dilaporkan menguji coba pesawat perdana mereka. Beijing telah menunjukkan taringnya dengan sukses menguji coba pesawat jet tempur berteknologi siluman, yakni J-20.

Pesawat tempur itu menjadi andalan China dalam mempertahankan teritorialnya. Dengan suksesnya uji coba J- 20,musuh bebuyutan Negeri Panda, Amerika Serikat (AS) langsung bersikap waspada dengan perkembangan teknologi militer Negeri Tirai Bambu itu yang dinilai sangat pesat. Informasi yang tidak diragukan menyebutkan teknologi J-20 hampir sama seperti pesawat siluman terbaru AS, yakni F-22 Raptor dan B-2 Spirit.


Baik J-20 dan pesawat siluman lainnya memiliki teknologi yang membuat mereka tidak dapat dipantau radar musuh dan mampu menghindari sinar laser. Menteri Pertahanan AS Robert Gates pun terkagum-kagum atas teknologi yang dikembangkan China.“ Menurut saya, yang telah kita saksikan adalah mereka (China) bisa jadi sudah lebih maju dari yang diperkirakan intelijen kami dalam membuat pesawat itu,” papar Gates. J-20 itu terbang dari pangkalan udara di Chengdu selama 15 menit pada Selasa (11/1).


Jet tempur siluman China memiliki bodi lebih besar dari jet siluman yang sudah ada. J-20 dikemudikan satu orang,dua mesin,serta lebih berat dan besar dari Sukhoi T-50 milik Rusia dan F-22.Menurut Ted Galen Carpenter, seorang ahli pertahanan di Institut Cato,Washington, mengatakan bahwa pesawat tempur China ini tidak akan membawa perubahan.


“Keseimbangan kekuatan dunia tidak akan berubah dalam 10 tahun mendatang.Namun, secara psikologi dan simbol memang penting,” tutur Carpenter. China selama ini terganggu dengan kehadiran militer Amerika di halaman belakang mereka. Sebelumnya, para analis memperkirakan J-20 bakal dirilis pada 2019 mendatang.Yang membuat miris pada pakar pertahanan adalah J-20 memadukan antara teknologi Rusia dan AS.Kekurangan teknologi pesawat siluman AS dan Rusia ditutupi J-20.Rentang sayap dengan lebar 14 meter dan berbobot 36.000 kg membuat pesawat tersebut sangat kokoh.

Dengan bangganya, Beijing mengklaim bahwa teknologi J-20 merupakan buatan anak dalam negeri. Sementara itu, Matthew Buckley, pilot jet tempur Angkatan Laut AS menyebutkan bahwa J-20 memiliki kemampuan siluman.“Pesawat F-18 yang saya terbangkan seperti truk besar dalam radar. Pesawat itu ada kemungkinan sama sekali tidak tampak,”tuturnya. Disisilain,menurutKerryBrown, dari lembaga Chatham House,J-20 menunjukkan kemampuan riset militer China.


“Namun,kemampuan Beijing masih jauh di belakang AS,” ujarnya. Kemampuan J-20 hanya untuk kepentingan pertahanan China dan menekan Taiwan. Sementara itu, Richard Fisher, senior fellowhubungan militer Asia di International Assessment and Strategy Center,lembaga keamanan di Washington menyatakan bahwa pejabat China mengaku program itu bertujuan menandingi F- 22 Raptor. “Pesawat itu memiliki potensi besar mengalahkan F-22 dan jauh lebih unggul dibanding F- 35,”paparnya.




Spesifikasi resmi J-20 memang belum dirilis ke publik secara detail. Jika dibandingkan F-22 Raptor milik AS, J-20 tidak kalah saing.Khusus F-22 Raptor,awalnya diperuntukkan menyaingi pesawat tempur Rusia. Kelebihan utama F-22 salah satunya adalah radar AN/APG-77 AESA yang dirancang untuk operasi superioritas udara dan serangan darat, yang sulit dideteksi pesawat lawan,menggunakan apertur aktif dan dapat melacak beberapa target sekaligus dalam cuaca apapun.


AN/APG-77 mengganti frekuensinya 1.000 kali setiap detik.Ini membuatnya juga sangat sulit dilacak. Radar tersebut juga dapat memfokuskan emisi terhadap sensor lawan dan membuat pesawat lawan mengalami gangguan. Dalam hal kemampuan senjata, F-22 dirancang untuk membawa peluru kendali udara ke udara yang tersimpan secara internal di dalam badan pesawat agar tidak mengganggu kemampuan silumannya.

Pesawat ini juga bisa membawa bom,misalnya, Joint Direct Attack Munition (JDAM) dan Small- Diameter Bomb (SDB) yang lebih baru. Untuk senjata cadangan, F- 22 membawa meriam otomatis M61A2 Vulcan 20 mm yang tersimpan di bagian kanan pesawat. Meriam ini membawa 480 butir peluru dan akan habis bila ditembakkan secara terusmenerus selama sekitar lima detik.


Pesawat siluman AS lainnya adalah Northrop Grumman B-2.B-2 berteknologi siluman yang kerap digunakan untuk mengebom. B-2 digunakan dalam tiga peperangan AS,yakni Perang Kosovo pada 1999 saat pesawat siluman tersebut menghancurkan 33% target pengeboman Serbia dalam delapan pekan.B-2 juga menjatuhkan bombom pada rakyat Afghanistan dengan dukungan pengisian bahan bakar di udara.Dalam perang Irak, B-2 juga turut diterjun dalam operasi tempur udara. Karakteristik B-2 sangat khas.



Pesawat itu mampu melakukan penetrasi ke wilayah musuh tanpa terdeteksi sedikit pun karena mampu meredam radar yang dipancarkan melalui visual atau pun suara. Mesin-mesinnya tertanam di dalam sayap.Namun, sebagian besar spesifikasitidakdiumumkanke publik. Selain B-2,AS juga memiliki F- 35 yang memiliki kemampuan siluman. Pesawat tersebut memiliki kursi tunggal, mesin tunggal, dan merupakan generasi kelima pesawat tempur yang mampu melakukan serangan darat dengan efektif.


Pesawat itu didesain tim industri penerbangan antariksa yang dipimpin Lockheed Martin dan pertama kali terbang pada 15 Desember 2006. Rusia pun tidak kalah. Rusia berusaha menandingi superioritas Amerika Serikat dalam hal kecanggihan pesawat tempur militer berteknologi siluman.Rusia ingin mengangkat kedigdayaan pesawat tempur seperti pada zaman Uni Soviet.Awal tahun lalu, Rusia menguji coba T-50 setelah dua dekade F22-Raptor milik AS menjadi raja di udara.


Pesawat jet militer generasi kelima ini tidak dapat terlihat oleh radar, dan sistem penerbangan maupun sistem persenjataan yang canggih.Pesawat siluman itu juga mampu terbang dalam kecepatan superionik lebih dari 1.200 km/jam. Pesawat T-50 bakal menambah kemampuan pertahanan Rusia karena selama ini hanya AS yang memiliki pesawat jet sejenis. Ingin menjadi pesaing Washington, Moskow berjanji akan membuat 1.000 pesawat tempur siluman dalam empat dekade mendatang.


Rusia mengandalkan India sebagai pelanggan utama pesawat tempur Sukhoi. Ide awal pesawat siluman sebenarnya ditemukan seorang pakar dari Rusia. Ironisnya, kini, Rusia justru berada di belakang AS.Awalnya, ide pesawat siluman ditemukan Pyotr Ufimsev pada 1966 dengan hipotesis berjudul Metode Gelombang Tepian dalam Teori Fisik Difraksi.Ufimtsev adalah ahli yang berpengalaman dalam Institut Rekayasa Radio Moskow. Ufimtsev mengalkulasikan cara- cara baru, yakni membentuk ruang bentuk geometris khusus yang mencerminkan radiasi elektromagnetis.






Dengan menciptakan kalkulasi silang sebuah radar yang mudah dilumpuhkan. Dia menetapkan rumus konfigurasi bersisi dua dimensi, berupa tata cara mengutak-atik komponen dalam sebuah radar. Hasilnya, radar bisa terganggu bila dikacaukan dengan sinar dua dimensi tadi.




Hingga kemudian, pada 1979, Rusia mengembangkan satu pesawat intai dan dari uji coba ternyata berhasil mengecoh radar antipesawat terbang AS di Padang Pasir Nevada. Namun, pada 1976, salinan teknologi pesawat siluman tersebut akhirnya bocor dan jatuh ke tangan AS. Dikembangkan Divisi Teknologi Angkatan Udara Amerika hingga mengembangkan teknologi siluman tersebut dengan hasil nyata,SR-71 Blackbird,F-117, dan B-2.

http://www.harycollection.co.cc/2011/01/j-20perpaduan-teknologi-as-dan-rusia.html

Selasa, 19 April 2011

Cara Kerja Granat Tangan




Agan2 dah tau kan bentuk granat seperti apa dan sebahya apakah granat kalau salah digunakan.. dah pada tau blom cara kerja granat itu seperti apa??

Granat tangan atau granat genggam adalah bom yang digenggam dan dilemparkan dengan menggunakan tangan. Istilah granat ini berasal dari bahasa Perancis Kuno dari kata (pome) grenate (pomegranate: buah delima), buah yang ukurannya mirip dengan granat genggam versi awal, dan karena kandungan serpihan granat tangan juga mirip dengan biji dalam buah itu.

Selain granat tangan, ada juga granat yang dirancang untuk ditembakkan dari senapan dan pelontar granat. Granat jenis ini bukan granat tangan, karena tidak bisa diaktifkan hanya dengan menggunakan tangan.

Terdapat berbagai bentuk dan ukuran granat, yang masing-masing memiliki tujuan yang berbeda-beda. Pada umumnya granat dirancang untuk meledak dan melontarkan serpihan-serpihan tajam ke segala arah. Ada juga granat yang terbakar, dan melepaskan asap. Tetapi semua granat memiliki dua kesamaan, yaitu pertama, bisa diisi oleh bahan peledak atau bahan kimia. Kedua, granat memiliki liang untuk memasukkan sumbu.

Pada dasarnya granat adalah bom kecil yang cara kerjanya mirip petasan. Petasan dibuat dari kertas yang diisi dengan bubuk mesiu dan mempunyai sumbu kecil. Apabila sumbu dinyalakan, api akan berjalan dari sumbu menuju bubuk mesiu, membuatnyameledak. Granat tangan berfungsi dengan cara yang sama, perbedaan adalah sumbu granat dinyalakan oleh mekanisme elektronik atau piroteknik, dan bukan api.



Granat pembakar TH3.





Granat asap kuning.



Granat kejut, flashbang.


Granat mempunyai tiga karakteristik:

1. Jarak penggunaan yang dekat.
2. Daerah kerusakan yang kecil.
3. Ada penundaan ledakan agar bisa dilempar dengan aman.
4. Kulitnya yang keras membuatnya bisa dipantulkan pada tembok atau tanah

Granat mempunyai bagian utama seperti berikut:

1. Badan – mengandungi pengisi dan dalam kebanyakan granat juga mengandungi serpihan.
2. Pengisi – bahan kimia atau bahan peledak dalam granat, yang menentukan kegunaan granat
3. Sumbu – membuat granat berfungsi dengan menyalakan atau meledakkan bahan pengisi.




Grenade, Hand, Riot, CN1, ABC-M25A1



Grenade, Hand, Incendiary, TH3, AN-M14



Grenade, Hand, White Smoke, TA, AN-M83



Grenade, Hand, Rubber Ball, Non-Lethal, GG04



Grenade, Hand, Smoke, WP, M15



JENIS-JENIS GRANAT



Granat serpihan

Granat serpihan (bahasa Inggris: fragmentation grenade) adalah granat yang dirancang untuk membunuh infanteri, yang dibuat untuk memuntahkan serpihan ke segala arah. Badannya dibuat dari plastik keras atau besi, lalu badannya diisi serpihan tajam, kawat, bola-bola besi, atau badan luarnya sendiri pun bisa bekerja sebagai serpihan. Bila kata "granat" digunakan tanpa penjelasan lebih lanjut, selalu diasumsikan bahwa yang dimaksud adalah granat jenis ini.


Granat asap

Granat asap merupakan granat berbentuk kaleng yang digunakan sebagai alat isyarat darat atau darat ke udara, penanda zona sasaran atau pendaratan, atau penyembunyi pergerakan tentara. Granat asap biasanya terbentuk dari silinder logam dengan lubang di bagian atas dan bawah untuk mengeluarkan asap. Ada dua jenis utama granat ini: granat asap berwarna dan granat penyembunyi. Pada granat asap berwarna, pengisinya biasanya terdiri daripada 250 hingga 350 gram campuran asap pewarna (kebanyakannya potasium nitrat, laktose dan pewarna). Tersedia warna-warna merah, hijau, kuning, dan ungu. Granat asap penyembunyi biasanya berisi campuran HC (hexachloroethane/zinc) atau campuran TA (terephthalic acid).

Jenis granat asap lain, adalah jenis asap meledak. Granat ini berisi fosforus putih (WP). Granat WP meledak dan menyebarkan phosphorus putih ke segala arah, lalu phosphorus terbakar apabila ketika bertemu udara, dan terbakar dengan api kuning terang, sambil menghasilkan asap putih yang banyak (phosphorus pentoksida). Ia juga berfungsi sebagai granat pembakar.


Granat anti-kerusuhan

Granat gas ini berisi gas air mata, yang biasanya berupa gas CS (Chlorobenzol malononitrile). Bentuk dan pengoperasian granat ini sama dengan gas asap, tetapi bedanya granat ini berisi 80 sampai 120 gram gas air mata, yang akan menyebabkan iritasi pada mata dan sistem pernafasan.

Apabila seseorang terkena gas ini untuk waktu yang lama (lebih dari 10 menit) granat ini mampu menyebabkan lepuh pada kulit dan luka permanen pada paru-paru. Dan bagi orang yang lemah atau sudah tua, gas CS mampu menyebabkan kematian.

Pemakaian granat gas sering keliru, granat ini seharusnya tidak digunakan untuk membubarkan segerombolan orang banyak karena akan menyebabkan panik. Pemakaian yang tepat adalah untuk menggunakan granat ini untuk membuat pagar pembatas, untuk mengarahkan pergerakan massa, atau untuk melindungi anggota kepolisian yang sedang terkepung.


Granat pembakar

Granat pembakar (bahasa Inggris: incendiary grenade) menghasilkan panas sangat tinggi melalui reaksi kimia. Bentuknya hampir serupa seperti granat asap dan gas. Pengisinya terdiri daripada 600 hingga 800 gram thermat (TH3), yang merupakan versi thermit yang diperbarui, bahan pembakar yang digunakan dalam granat sewaktu Perang Dunia II. Sebagian daripada campuran thermat berubah menjadi besi cair, yang terbakar pada suhu 2204° Celsius. Granat ini dapat melelehkan logam yang bersentuhan dengannya. Pengisi thermate bagi granat AN-M14 terbakar selama 40 detik dan mampu membakar menembusi 12,7 mm kepingan baja. Granat ini juga tidak memerlukan oksigen dalam pembakaran dan mampu terbakar di bawah air. Fosforus putih juga digunakan sebagai pengisi granat pembakar, yang membakar pada suhu 2760°C.

Pembakaran thermat dan fosforus adalah dapat menyebabkan luka bakar yang paling parah dan menyakitkan karena thermat dan fosfor terbakar pada secara cepat dan suhu yang membuat satu partikel kimia tersebut membakar menembus kulit, saraf, otot dan juga tulang. Selain itu, fosforus putih amat beracun. Dosis 50-100 miligram bisa menyebabkan kematian.


Granat kejut

Granat kejut, atau disebut juga flashbang, pada awalnya dirancang dan dibuat untuk dipakai Special Air Service Inggris. Granat ini dirancang untuk membingungkan, atau mengalihkan perhatian musuh selama beberapa detik. Granat jenis ini yang paling banyak ditemui adalah granat kejut M84, yang diberi julukan "Flashbang", karena menghasilkan cahaya membutakan (6-8 juta Candela) dan ledakan yang keras (170-180 desibel).

Ketika meledak, granat tersebut tetap utuh tanpa menghasilkan serpihan. Granat ini berbentuk tabung segienam besi dengan lubang untuk pengeluaran ledakan cahaya dan bunyi. Pengisinya adalah 4,5 gram peledak campuran oksida logam magnesium dan ammonium perklorat atau potasium perklorat.